Agama - Berpengaruh terhadap perubahan otak manusia

Agama - Ternyata ia sangat berpengaruh terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada otak manusia, terutama bagi mereka para dewasa dan lansia


Informasi Agama: Berpengaruh terhadap perubahan otak manusia

Informasi Agama: Duke University
Duke University
Para peneliti dari salah satu universitas ternama di Amerika Serikat yaitu Duke University Medical Center telah menemukan sebuah korelasi yang nyata antara praktek keagamaan terhadap berbagai macam perubahan terhadap otak manusia, khususnya pada orang dewasa dan usia lanjut.

Informasi Agama: Hippocampus pada otak
Hippocampus pada otak
Mereka mengambil sampel dengan cara mengukur perubahan volume hippocampus karena ia adalah salah satu wilayah di dalam otak manusia yang terlibat secara langsung dalam berbagai macam proses pembelajaran dan memori. Pada dasarnya hampir seluruh otak manusia cenderung menyusut seiring dengan bertambahnya usia, dan wilayah otak yang biasa kita sebut dengan hippocampus ini juga menyusut pada tingkat yang berbeda-beda pada setiap manusia. Penyusutan (atrofi) pada hippocampus selama ini juga telah dikaitkan dengan kasus depresi dan tolak ukur untuk penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer adalah suatu kondisi di mana sel-sel saraf di otak mati, sehingga sinyal-sinyal otak sulit ditransmisikan dengan baik. Gejala penyakit ini sulit dikenali sejak dini. Seseorang dengan penyakit Alzheimer punya masalah dengan ingatan, penilaian dan berpikir, yang membuat mereka sulit untuk menjalani kehidupan kehidupan sehari-hari. 

Para peneliti menemukan bahwa penganut Agama Kristen Protestan (khususnya mereka-mereka yang tidak mengidentifikasi diri mereka sebagai insan yang akan terlahir kembali, atau mereka yang tidak memiliki afiliasi keagamaan sama sekali) memiliki tingkat atrofi (penyusutan) yang lebih sedikit pada wilayah hippocampus dibanding penganut Agama Kristen Protestan ataupun Katolik yang merasa diri mereka akan dilahirkan kembali.

Para partisipan penelitian yang melaporkan diri mereka memiliki berbagai pengalaman keagamaan yang telah mengubah hidup mereka juga ditemukan memiliki lebih banyak atrofi dalam hippocampus daripada mereka yang tidak.

Studi ini mengukur hubungan antara faktor agama dan perubahan volume hippocampus dari waktu ke waktu pada orang dewasa dan usia lanjut. Penelitian ini dilakukan dengan sangat akurat dan berjalan secara kontinu selama 8 tahun lamanya dengan cara melakukan sebuah wawancara terhadap 268 orang yang telah berusia 35-85 tahun. Mereka ditanyai tentang kelompok agama mereka, praktek-praktek spiritual, dan pengalaman religius apa yang selama ini telah mengubah hidup mereka. Dan setelah melewati proses wawancara tersebut, mereka kemudian mengikuti tes uji perubahan volume hippocampus di laboratorium khusus yang telah disediakan dengan menggunakan mesin pemindai MRI. Hasil dari penelitian ini juga telah dipublikasikan dalam PLoS ONE (Public Library of Science ONE), sebuah jurnal ilmiah akses terbuka yang dapat diakses oleh siapa saja di belahan dunia bagian manapun.

Informasi Agama: Prof. Amy D. Owen
Prof. Amy D. Owen
Penulis Amy D. Owen, Ph.D., dan David R. Hayward, Ph.D., yang tergabung di dalam asosiasi para peneliti Duke University Medical Center, mengatakan bahwa temuan ini tidak mencakup faktor-faktor lain yang terkait dengan atrofi hippocampal, pendidikan, dukungan sosial, tingkat depresi, ataupun volume otak. Selain itu, faktor-faktor agama lainnya (seperti doa, meditasi, atau belajar kitab suci) tidak memprediksi faktor perubahan volume hippocampus dalam penelitian ini.

“Salah satu interpretasi dalam temuan kami adalah di mana anggota dengan kelompok agama yang bersifat mayoritas tampaknya memiliki tingkat penyusutan (atrofi) hipocampus yang lebih sedikit apabila dibandingkan dengan kelompok yang menganut agama minoritas. 
Sehingga ketika anda merasa keyakinan dan nilai-nilai agama yang anda anut sedikit bertentangan dengan norma, etika ataupun kebiasaan dari masyarakat umum secara keseluruhan, maka hal itu akan berkontribusi terhadap faktor stres secara jangka panjang yang tidak disadari namun berimplikasi pada kesehatan jaringan otak secara kesluruhan,” kata Prof. Owen, salah seorang penulis utama jurnal penelitian.
“Studi-studi lainnya yang telah membuat kita berpikir dengan keras adalah fakta akan adanya sebuah pengalaman baru (khususnya yang bersifat spiritual), yang bisa diartikan sebagai sebuah kenyamanan ataupun juga stres oleh si penganut agama, ternyata bergantung pada faktor cocok atau tidaknya dengan keyakinan agama orang-orang terdekat di sekitar anda, khususnya keluarga,” ujar Hayward. 
Khusus untuk orang dewasa yang lebih tua, pengalaman-pengalaman baru di dalam dunia spiritual yang sifatnya diluar dugaan mereka, ternyata dapat menimbulkan sebuah keraguan besar terhadap keyakinan agama yang telah lama mereka anut, sehingga secara tidak langsung dapat menimbulkan perbedaan pendapat dengan teman ataupun keluarga.
Informasi Agama: Prof. David R. Hayward
Prof. David R. Hayward
“Beberapa hasil penelitian lainnya juga telah menemukan fakta bahwa bagi kebanyakan orang yang memiliki kelompok agama dan aktif didalamnya, tampaknya memiliki tingkat kesehatan otak yang lebih baik di hari tua, namun tidak semua orang beragama mengalami manfaat yang sama. Studi ini bisa membantu kita memahami beberapa alasan bagi perbedaan-perbedaan tersebut,” ujar Hayward.

Sementara stres mungkin suatu penafsiran yang masuk akal dari temuan studi ini, penulis mengingatkan bahwa tidak cukup detail yang diketahui tentang mekanisme bagaimana stres dapat mempengaruhi atrofi hippocampus pada otak.

Penelitian ini adalah salah satu penelitian yang pertama kali dilakukan untuk meneliti hubungan antara agama dan spiritual dengan perubahan volume area tertentu di otak. Penelitian ini juga merupakan salah satu penelitian yang pertama kali sanggup mengeksplorasi faktor-faktor keagamaan seperti pengalaman religius yang mengubah hidup. Inti dari penelitian ini sebenarnya adalah untuk membantu menjelaskan kepada umat manusia bahwa ada hubungan yang sangat erat antara agama dan perkembangan otak.

Pembelajaran lainnya dari penelitian ini adalah bahwa faktor-faktor yang berhubungan erat dengan tingkat atrofi hippocampal ternyata sangat berharga untuk didokumentasikan, terutama sebagai bahan baku untuk penelitian-penelitian berikutnya yang masih berkaitan erat dengan tema penelitian ini. Seperti pada premis penelitian sebelumnya yang telah disampaikan bahwa volume hippocampus yang lebih kecil berkaitan dengan hasil kesehatan seperti depresi, demensia dan penyakit Alzheimer pada orang dewasa dan mereka yang berusia lanjut.




Anda menyukai artikel yang kami sajikan?
Tunjukkanlah rasa syukur dan terimakasih anda kepada Tuhan dan kami selaku pihak yang telah membantu mencerahkan anda dengan cara memberikan bantuan melalui salah satu cara di bawah ini:
  • Klik semua gambar/tulisan yang ada di kolom "► Informasi Sekilas Info" di bagian side bar & selesaikan autentifikasi-nya.
  • Melakukan donasi melalui Bitcoin ke alamat: 19aMiNgwDpwXovxAd9FQnxPDRcu8i1Zm6Vbisa di copy-paste!
  • Melakukan donasi melalui PayPal ke alamat: informaside@collector.orgbisa di copy-paste!
Tip us as a form of your gratitude!
Setiap bantuan yang anda berikan kepada kami sungguh sangat berharga bagi perkembangan dan keberlangsungan hidup kami! Jangan lupa untuk memberikan komentar, kritik ataupun saran yang sifatnya dapat "membangun" kami pada kolom komentar agar kami bisa melakukan evaluasi dan terus berkarya untuk menampilkan berbagai macam ilmu ataupun informasi penting lainnya yang sangat berharga bagi kehidupan anda semua!



Jangan lupa untuk mencentang reaksi anda setelah membaca artikel di atas sebelum berkomentar, terimakasih.

Comments